Sabtu, 19 Juni 2010

laporan pratikum fisiologi tes harvard

Created by:
seratus anterior:
1. Fandy
2. Ancha
3. Jannah
4. Umhy
5. thina

BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Setiap orang membutuhkan kesegaran jasmani dan beraktivitas. Oleh karena itu, dianjurkan untuk berolah raga paling kurang dua kali seminggu. Olah raga memiliki manfaat untuk kesehatan sistem kardiovaskuler.
Seseorang yang sehat dan fit akan dapat melakukan pekerjaan sehari-hari tanpa kelelahan yang berarti. Ia masih mempunyai cadangan tenaga yang cukup untuk suatu kegiatan ekstra seperti berolahraga dan rekreasi. Sehat dalam arti umum adalah dengan cara menjaga makanan agar cukup gizi dan menjaga kebersihan sehari-hari.
Kadang-kadang dalam kehidupan sehari-hari kita membandingkan bagaimana kesanggupan kita melakukan aktivitas dengan orang lain. Misalnya, ketika menaiki dengan tangga bersama teman, ada yang merasa sangat lelah dan adapula yang terlihat biasa saja. Hal ini dipengaruhi oleh kebugaran jasmani setiap orang. Orang yang sering berolahraga, tubuhnya akan terbiasa atau dibandingkan dengan yang jarang berolah raga. selain itu, orang yang rajin berolah raga juga memiliki kerja jantung yang baik dan berujung pada lebih rendahnya tekanan darah dibanding yang jarang berolah raga.
Oleh karena itu, dengan percobaan ini, kita akan mempelajari bagaimana pengaruh aktivitas terhadap kerja jantung dan perubahan fisiologis para atlit sehingga berbeda dengan yang bukan atlit.
B. TUJUAN
• Menentukan kebugaran jasmani (physical fitness), baik terhadap kerja, olah raga maupun aktivitas lainnya.
• Mengevaluasi status fungsional dari sistem kardiovaskular dan atau sistem respirasi dalam keadaan sehat dan sakit.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Kebugaran Jasmani
1. Kardiorespiratori atau Daya Tahan Aerobik
Kemampuan untuk melakukan aktivitas yang beratnya sedang pada jangka waktu tertentu. Kemampuan merefleks bagaimana baik jantung dan paru-paru bekerjasama untuk memasukkan oksigen ke dalam tubuh selama penggunaan dan latihan.
2. Daya Tahan Otot
Kemampuan untuk menahan posisi khusus untuk waktu yang terus-menerus atau mengulang gerakan berulangkali.
3. Kekuatan Otot
Kemampuan untuk menggunakan kekuatan maksimum, seperti mengangkat beban terberat yang bisa dialihkan 1 kali. Ini memungkinkan mempunyai kekuatan otot pada satu tempat, seperti di tangan, sedangkan kekuatan berkurang di tempat lain seperti di kaki.
4. Kelenturan
Kemampuan untuk menggerakkan sendi penuh dengan gerakan; elastisitas otot.
Jaringan otot, yang mencapai 40 % sampai 50 % berat tubuh. Pada umumnya tersusun dari sel-sel kontraktil yang disebut serabut otot. Melalui kontraksi, sel-sel otot menghasilkan pergerakan dan melakukan pekerjaan. (ethel Sloane :2001)
5. Komposisi Tubuh
Proporsi lemak dalam tubuh berbanding dengan tulang dan otot
ketika suatu potensi tindakan telah melintas neuromuscular simpangan dan kemudian telah menyebar di (dalam) kedua-duanya arah sepanjang serabut otot, serabut otot mulai untuk mengontrak setelah suatu awal periode [yang] tersembunyi sekitar 003 detik/second. (guyton : 2001)
Sistem respirasi : Sistem pengangkutan Oksigen
Respirasi adalah pertukaran gas, yaitu oksigen yang dibutuhkan tubuh untuk metabolism sel dan karbondioksida yang dihasilakan dari metabolisme tersebut dikeluarkan dari tubuh melalui paru. (http://fraxawant.wordpress.com)
Fungsi utama dari system respirasi adalah untuk menyuplai oksigen agar darah bisa mengirim oksigen ke seluruh bagian tubuh. System yang berhubungan dengan pernapasan yang bekerja sampai bernapas. Ketika kita bernapas, kita menghirup oksigen dan menghembuskan karbondioksida. Pertukaran gas ini adalah system pernapasan yang artinya mengambil oksigen ke darah.
Suatu kelaianan pernafasan bernafas berkala terjadi di dalam sejumlah penyakit berbeda kondisinya. Orang bernafs sangat mempunyai suatu interval waktu yang pendek atau singkat dan kemudian bernafas sangat sedikit atau sama sekali tidak paling umum jenis yang bernafas berkala, cheyne stoke bernafas, terjadi berulang-ulang kali setiap45 detik /barang bekas bagi 3 beberapa menit. Suatu detik yang mempunyai jenis bernafas berkala, yang mana adalah karakter oleh berlari tentang beberapa pernafasan normal 1,2,3,4 atau lebih serentak mengikuti tiba-tiba. Masa perhentian pernafasan lengkap, kemudian rangkaian pernafasan normal dan sebagainya, siklus sangat variabel,kadang-kadang sama pendek/singkat seperti 10 detik dan kadang kadang sepanjang suatu menit.
pada posisi diam, suatu manusia normal bernafas/meniup 12-15 kali suatu menit. lima ratus ml udara menimang nafas, atau 6-8 liter / min, adalah diilhami dan berakhir udara. dagan udara ini dengan gas di (dalam) alveoli dan oleh difussion sederhana, oksigen masuk darah di (dalam) yang berkenaan dengan paru-paru capillries [selagi/sedang] karbondioksida masuk alveoli [itu]. di (dalam) cara ini, 250 ml oksigen masuk badan per menit dan 200 ml karbondioksida dikeluarkan. (w.f. ganong : 2000)
Pengaturan pernapasan selama latihan
Pada latihan yang berat, pemakaian oksigen dan pembentukan karbon dioksida dapat meningkat sampai 20 kali lipat, ternyata, pada seorang atlet yang sehat, ventilasi alvelous kadang-kadang meningkat hampir sama dengan langkah-langkah peningkatan tingkat metabolisme, seperti yang dilihatkan oleh hubungan antara pemakaian oksigen dan ventilasi. Oleh karena itu, po2, Pco2, dan pH arteri tetap hampir mendekati optimal.
Dalam percobaan untuk menganalisis faktor-faktor yang menyebabkan peningkatan ventilasi selama latihan, orang segera tertarik untuk menganggap hal ini sebagai perubahan kimiawi dala cairan tubuh selama latiha, termasuk peningkatan karbon dioksida, peningkatan ion hidrogen, dan penurunan oksigen. Tetapi, hal ini masih dipertanyakan karena pengukuran Pco2, pH, dan Po2 arteri memperlihatkan bahwa tidak ada satu pun dari ketiga hal ini berubah secara bermakna, sehingga tidak satu pun dari ketiga hal ini berubah secara bermakna, sehingga tidak satu pun menjadi cukup abnormal untuk merngsang pernafasan.
Oleh karena itu, masalah yang harus dipertanyakan adalah : apa yang menyebabkan giatnya ventilasi selama latihan? Pertanyaan ini belum terjawab sepenuhnya, tapi paling tidak ada dua macam efek yang tampaknya perlu mendapat perhatian khusus:
1. Otak, ketika menjalarkan impuls ke otot yang berkontraksi, dianggap mengirimkan impuls koleteral ke batang otak untuk merangsang pusat pernafasan. Hal ini analog dengan efek perangsangan pusat otak yang lebih tinggi pada pusat vasomotor di batang otak selama latihan, menyebabkan tekanan arteri meningkatkan seperti peningkatan ventilasi.
2. Selama latihan, gerakan tubuh, terutama lengan dan tungkai, dianggap meningkatkan ventilasi paru dengan merangsang proprioseptor sendi dan otot, yang kemudian menjalarkan impuls eksitasi ke pusat pernafasan. Alasan untuk mempercayai hal ini adalah bahwa gerakan pasif dari lengan dan tungkai seringkali meningkatkan ventilasi baru beberapa kali lipat, tetapi hal ini tidak akan terjadi jika saraf sensoris yang berasal dari lengan dan tungkai di hambat.
Masih ada faktor-faktor lain yang juga mungkin penting dalam meningkatkan ventilasi paru selama latihan. Misalnya, beberapa penelitian bahkan menunjukkan bahwa hipoksia yang terjadi di dalam otot selama latihan, menghasilkan sinyal saraf aferen ke pusat pernafasan untuk merangsang pernafasan. Juga, karena otot-otot yang bekerja akan membentuk karbon dioksida dalam jumlah yang luar biasa banyaknya dan menggunakan banyak sekali oksigen, sehingga Pco2 dan Po2 berubah secara nyata antara siklus inspirasi dan siklus ekspirasi pada pernafasan. Beberapa percobaan menunjukkan bahwa variasi yang luas dalam gas darah ini dapat merangsang pernafasan, walau pun nila rata-ratanya tetap hampir sama dengan normal. Namun, karena terdapat peningkatan ventilasi ttotal yang cukup besar, yang mulai terjadi segera stelah latihan dimulai, yaitu sebelum bahan kimia darah dimiliki waktu untuk berubah, maka sebagian besar peningkatan pernafsan mungkin disebabkan oleh dua faktor yaitu impuls perangsangan dari pusat otak yang lebih tinggi dan refleks perangsangan proprioseptif.
Aktivitas jantung
jantung adalah satu dari organ kritis dari suatu badan binatang, [seperti/ketika] [itu] memompa darah oxygenated untuk memberi makan biologi badan berfungsi. perhentian dari hearthbeat, dikenal sebagai berhubungan dengan jantung menangkap/menghentikan, adalah suatu [yang] keadaan darurat kritis. withouth intervensi, kematian dapat terjadi di dalam beberapa menit berhubungan dengan jantung menangkap/menghentikan [karena;sejak] otak memerlukan suatu continous persediaan oksigen dan tidak bisa survive untuk lobg jika itu persediaan dikerat. (www.wikipedia.org)
Panjang waktu yang dihabiskan setiap empat tahap ini dalam kegiatan jantung manusia, bernapas pada angka 70/menit, kira-kira seperti di bawah ini :
Auricular sistole, 0,1 detik
Auricular diastole, 0,762 detik
Ventricular sistole, 0,379 detik
Ventricular diastole,0,483 detik l
Potensial Aksi Pada Otot Jantung
Potensial membran istirahat otot jantung normal kira-kira -85 sampai -95 milivolt dan kira-kira -90 sampai -100 milivolt terdapat di dalam serat penghantar khusus, serat purkinje.
Potensial aksi yang direkam dalam dalam otot ventrikel, diperlihatkan pada rekaman bagian bawah dalam adalah sebesar 105 milivolt, yang berarti bahwa pontensial membran tersebut meningkat dari nilai normalnya yang biasanya sangat negatif menjadi sedikit positif, kira-kira +20 milivolt. Bagian yang positif disebut sebagai pontensial kaduk jantung (over shoot potensial). Setelah terjadi gelombang paku (spike) yang pertama, membran tetap dalam keadaan depolarisasi selama kira-kira 0,2 detik dalam otot atrium dan kira-kira 0,3 detik dalam otot ventrikel, memperlihatkan suatu gambaran plateau. Keadaan repolarisasi yang terjadi dengan tiba-tiba pada bagian akhir dari plateau. Adanya plateau ini dalam potensial aksi menyebabkan kontraksi otot jantung berlangsung selama 3 sampai 15 kali lebih lama daripada kontraksi otot rangka.
Pengaruh frekwensi denyut jantung pada fungsi jantung sebagai pompa
Pada umumnya makin tinggi frekwensi denyut jantung itu per menit, makin banyak darah yang darah yang dapat dipompakan, namun sebenarnya ada pembatasan yang penting terhadap pengaruh ini. Contoh, sekali frekwensi denyut jantung meningkat di atas batas kritis, kekuatan jantung itu sendiri akan menurun, hal ini mungkin disebabkan oleh penggunaan bahan0bahan metabolik yang berlebihan di dalam otot jantung. Selain itu, periode diastolik yang terjadi diantara kontraksi akan sangat memendek sehingga darah tidak mempunyai waktu yang cukup utnuk mengalir secara kuat dari atrium ke dalam ventrikel. Karena alasan-alasan inilah, bila frekwensi denyut ditingkatkan secara buatan melalui perangsangan listrik, jantung hewan besar yang normal akan mempunyai puncak kemampuan untuk memompa sejumlah besar darah pada frekwensi denyut antara 100 dan 150 per menit. Sebaliknya, bila frekwensinya ditingkatkan oleh perangsangan simpatik, jantung akan mencapai kemampuan puncak untuk memompa darah pada frekwensi denyut janutng antara 170 dan 270 kali per menit. Alasan perbedaan ini adaalah bahwa perangsangan simpatik bukan hanya menigkatkan frekwensi denyut jantung tetapi juga meningkatkan kekuatan denyut jantung. Pada saat yang bersamaan, perangsang simpatis menurunkan waktu kontraksi sistolik dan menyebabkan lebih banyak waktu untuk pengisian selama diastolik.
Walaupun untuk menentukan frekwensi denyut jantung sangat mudah, yaitu hany dengan menghitung denyut nadi, ternyata uuntuk menentukan berapa besar kekuatan kontraksi jantung, yang umumnya disebut sebagai kekuatan kongraksi jantung, selalu sulit dilakukan. Seringkali perubahan kekuatan kontraksi berlawanan dengan perubahan frekwensi denyut jantung. Memang, pengaruh ini terjadi hampir tanpa perubahan pada penyakit lemah jantung.
Salah satu cara yang dapat menentukan kekuatan kontraksi jantung dengan ketepatan yang baik adalah melakukan perekaman satu atau lebih kurva fungsi jantung. Biarpuun begitu, hal ini hanya dapat dilakukan dengan mudah pada binatang percobaan. Oleh karena itu, banyak ahli fisiologi dan para klinisi telah mencari metode untuk menilai kekuatan kontraksi jantung pada manusia dengan cara yang sederhana. Salah satu cara itu adalah dengan menentukan apa yang disebut sebagai dP/dt.
dP/dt sebagai suatu alat pengukuran ekuatan kontraksi jantung. dP/dt berarti pkecepatan perubahan tekanan ventrikel yang berhubungan dengan waktu. Perekaman dP/dt didapat dengan bantuan komputer elekteonik yang dapat membedakan gelombang tekanan ventrikel yang hendak diukur,sehingga menghasilkan suatu rekaman kecepatan perubahan tekanan ventrikel. Pada rekaman dinyatakn bahwa pada saat bersamaan dengan meningkatnya tekanan ventrikel yang sangat cepat itu, perekaman dP/dt juga mencapai ketinggian yang tertinggi. Sebaliknya, pada saat tekanan vntrikel menurun dengan sangat cepat, rekaman dP/dt juga mencapai tingkat yang paling rendah. Bila tekanan ventrikel tidak meningkat atau menurun, maka rekaman dP/dt berada pada kedudukan nol.
Pada percobaan ini telah menunjukkan bahwa kecepatan kenaikan tekanan ventrikel dP/dt, pada umumnya sangat berkaitan kekuatan kontraksi ventrikel. Yang menunjukkan puncak dP/dt yang lebih tinggi pada rekaman di bawah saat kontraksi jantung ditingkatkan oleh isoproterenol. Jadi, puncak dP/dt ini sering dopakai sebagai cara untuk membandingkan kekuatan kontraksi jantung pada berbagai keadaan fungsional.
Nilai kuantitatif untuk puncak dP/dt ini juga dipengaruhi oleh faktor-faktor lain yang tidak berhubungan dengan kekuatan kontraksi jantung. Misalnya, nilai tersebut ditingkatkan oleh kenaikan tekanan yang masuk kedalam ventrikel kiri (yakni tekanan ventrikel akhir diastolik), yang merupakan preload ventrikel dan tekanan di dalam aorta yang dilawan oleh jantung sewaktu memompa darah yang disebut sebagai after load. Oleh karena itu, seringkali sulit untuk mempergunakan dP/dt sebagai suatu alat ukur kekuatan kontraksi dalam membandingkan jantung seseorang terhadap jantung orang lain sebab salah satu faktor ini dapat saja berbeda. Dengan alasan ini, alat-alat pengukur kuantitatif lain juga digunakan sebagai usaha untuk menilai kekuatan kontraksi jantung. Salah satu cara adalah dengan membagi dP/dt dengan tekanan dalam ventrikel pada saat itu.
Berhubungan dengan jantung Keluaran secara kebiasaan di/terukur di (dalam) salah satu dari dua jalan. di (dalam) akut transit-time meter alir yang transonic dicoba dengan suatu berhubungan dengan jantung keluaran pemeriksaan menjadi metoda yang lebih disukai [sebagai/ketika] [itu] menyediakan suatu berlanjut menjadi metoda standard. ( www.lintonins.com )

BAB III
METODOLOGI PERCOBAAN
A. ALAT
Adapun alat yang dibutuhkan :
1. Bangku Harvard
2. Metronom
3. Stop Watch
4. Sphygnomanometer

B. CARA KERJA
Sebelum tes dimulai, pemeriksa memperlihatkan pola naik-turun bangku kepada subjek. Kemudian metronom diatur sesuai kecepatan yang diinginkan. Pada orang muda yang fit, pelaksanaan tes submaksimal umumnya dimulai dengan kecepatan 60 paces/menit atau 10 ascent/menit selama 4 menit. Kemudian kecepatan ditingkatkan menjadi 90, 120 dan 150 ascent/menit, denga interval 4 menit untuk setiap kecepatan. Pada subjek yang kurang fit atau pada wanita, tes dimulai dengan kecepatan 8 ascent/menit atau 48 paces/menit dan kemudian ditingkatkan menjadi 72, 96 dan 120 pace/menit. Pengukuran tekanan darah dan kecepatan denyut jantung dilakukan pada menit keempat pada setiap tahap, yaitu sesaat sebelum kecepatan ditingkatkan atau sebelum tes dihentikan.

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. HASIL
Orang coba
1. Astina
2. Soewandhi

Tekanan darah orang coba sebelum tes di mulai : 100/70 mmHg.
Waktu keseluruhan adalah 213 detik yang terbagi yakni sebagai berikut :
Menit pertama
HR = 26 x 4 = 104
Menit kedua
HR = 24 x 4 = 96
Menit ketiga
HR = 23 x 4 = 92
IKB = T x 100
= 2(f1 + f2 + f3)
= 114 x 100
= 11.400/292
= 39,04
B. PEMBAHASAN
Dalam percobaan ini orang coba diminta untuk melakukan aktivitas fisik yaitu dengan naik turun bangku harvard yang bertujuan untuk melihat perbedaan tekanan darah dan denyut nadi atau perubahaan sistem kardiovaskuler sebelum dan setelah beraktivitas. Percobaan ini di mulai dengan mengukur tekanan dan denyut nadi orang coba. Hasil pengukurannya yaitu tekanan darah 100/70 mmHg. Pengukuran tekanan darah perlu dilakukan karena orang yang bertekanan darah tinggi tidak dapat melakukan percobaan ini karena seseorang yang mengalami hipertensi atau tekanan darah tinggi, aktifitas jantungnya sudah cukup tinggi dari orang normal yang mengakibatkan tekanan darah menjadi tinggi. Jika percobaan ini di lakukan, maka tekanan darah pada orang hipertensi akan lebih meningkat lagi walaupun peningkatannya tidak signifikan. Akan tetapi, hal ini akan beresiko yaitu pecahnya pembuluh darah bahkan gagal jantung.
Setelah orang coba melakukan naik turun bangku harvard selama 213 detik, maka tekanan darah dan denyut nadi di ukur kembali. HR =26 x 4 = 104. Menit kedua HR= 24 x 4 = 96. Menit ketiga HR= 23 x 4 = 92. Setiap bilangan dikalikan 4 karena diambil setiap 15 detik.
Pada orang coba dalat dilihat bahwa terjadi peningkatan darah (diastole) dan denyut naadi. Hal ini disebabkan karena kardiak output jantung. Karena aktivitas meningkat. Organ tubuh yang lain juga memerlukan suplai O2 dan nutrisi yang di dapatkan dari jantung. Oleh karena itu, kardiak output inilah dimana darah akan lebih banyak dipompa melalui aorta sehingga berpengaruh dalam peningkatan dimana darah akan lebih banyak dipompa melalui aorta sehingga berpengaruh dalam peningkatan tekanan darah dimana peningkatan darah ini mengakibatkan gelombang tekanan yang berjalan di sepanjang arteri semakin cepat dan selanjutnya akan mengakibatkan denyut nadi meningkat.
Dalam pengaliran darah ke seluruh tubuh ketika beraktivitas, pembuluh darah di sekitar otot akan mengalami vasodilatasi agar darah lebih banyak dialirkan. Vasodilatasi ini berlanjut pada penurunan pertahanan perifer. Hal ini diandaikan dengan dua buah pipa yaitu pipa kecil dan pipa besar. Selain itu, tekanan pipa besar lebih rendah dibandingkan dengan pipa kecil demikian hal nya dengan pembuluh darah.
Sealin itu, peningkatan kardiak output juga dipengaruhi oleh peningkatan aliran balik vena akibat dari meningkatnya tonus otot karena pergerakan fisik dan penurunan tekanan intatorak. Penurunan tekanan itratorak merupakan akibat dari reaksi tubuh yaitu inspirasi yang dalam pemenuhan kebutuhan O2 untuk menghasilkan energi.
Berhubungan dengan kardiak output, dapat dijelaskan pula bahwa seorang atlit dan orang biasa memiliki kardiak output yang sama. Akan tetapi, yang membedakan adalah pada kualitas volume secuncup (jumlah darah yang dikeluarkan jantung setiap kontraksi). Setiap kali jantung berkontraksi akan upnya lebih sedikit.menghasilkan darah yang lebih banyak dibandingkan orang biasa. Sehingga untuk menghasilkan kardiak output yang sama dengan atlit, jantung orang biasa akan lebih banyak berkontraksi. Seperti yang kita ketahui kardiak output didapatkan dari pengaliian denyut jantung dengan volume sekuncup. Dari sini, kita dapat menyimpulkan bahwa kontraksi jantung pada atlit lebih sedikit tetapi karena volume sekuncup lebih banyak sehingga bisa menyamai kardiak output dari orang biasa yang jantungnya lebih banyak berkontraksi, tetapi volume sekuncupnya lebih sedikit. Hal inilah yang menjadi alasan mengapa tekanan darah atlit lebih rendah dibanding yang biasanya (kontraksi jantung lebih sedikit).
Beberapa pertimbangan :
1. Bangku Harvard adalah alat yang paling sederhan, murah dan mudah dibuat. Alat ini tidak memerlukan listrik dan kalibrasi serta mudah dibawa kemana-mana. Oleh sebab itu, alat ini palinh praktis dipergunakan dalam kerja lapangan. Dengan pertimbangan ini maka pengetahuan tentang tes latihan menurut cara ini adalah penting untuk dipraktekkan dikemudian hari.
2. Latihan Langkah mudah dilakukan oleh hampir semua orang, pada segala golongan umur dan tingkat kebugaran jasmani yang berbeda-beda. Intensitas latihan dengan mudah dapat diubah-ubah dengan mengatur kecepatan metronom, walaupun pada kecepatan yang tinggi dapat menimbulkan rasa takut pada beberapa orang.
3. Kerugian utama dalam tes ini adalah adanya gerakan kontinous dari lengan dan kepala yang menimbulkan kesukaran dalam melakukan pengukuran fisiologis, misalnya pengukuran tekanan darah dan kecepatan denyut nadi.
Prinsip umum dalam tes latihan :
1. Tes latihan harus dimulai dengan level intensitas dibawah kapasitas maksimal.
2. Intensitas latihan ditingkatkan secara bertahap dengan melakukan observasi pada setiap tahap.
3. Kontraindikasi dalam melakukan tes dan indikasi untuk menghentikan tes latihan harus diperhatikan secara seksama.
4. Jika keuntungan dalam mengadakan tes pada seseorang atau keamanan tes adalah meragukan, maka sebaiknya tes tidak dilakukan pada waktu itu.
5. Kecepatan denyut jantung, tekanan darah, penampilan pasien dan gejala-gejala (baik yang terlihat maupun yang dikatakan oleh pasien) harus dimonitor secara teratur.
6. Seluruh observasi harus dilanjutkan 7-10 menit setelah latihan (recovery). Jika terjadi respon yang abnormal maka observasi pasca latihan memerlukan waktu yang lebih lama lagi.
7. Ruangan pemeriksaan harus memiliki ventilasi yang baik dengan suhu ruangan sekitar 18-20oC dan kelembaban 60% atau kurang jika memungkinkan.
Syarat-syarat untuk mengikuti tes latihan
Orang coba tidak boleh makan, merokok, minum alkohol atau kopi paling sedikit 3 jam sebelum tes dimulai. Juga tidak melakukankerja yang berat sebelum melakukan tes latihan. Pakaian sebaiknya pakaian olah raga yang mengizinkan gerakan yang bebas dari seluruh tubuh.
Pencatatan tekanan darah dan kecepatan denyut nadi
Tekanan darah dan kecepatan denyut nadi diukur sebelum tes dimulai (keadaan istirahat). Setelah itu tekanaan darah dan kecepatan denyut nadi dimonitor setiap 2 sampai 5 menit selama latihan atau pada setiap tahap tes. Selama pemulihan (recovery), tekanan darah dan denyut nadi diukur nadi setiap 3 menit. Lengan yang diukur yaitu dimana manset dipasang, harus relaks dan tidak boleh ikut bergerak sewaktu pengukuran dilakukan.
Jenis tes langkah ini adalah yang paling baik untuk dilakukan dan menyenagkan, sebab tes langkah tunggal memerlukan tinggi langkah yang lebih besar (50 cm). sedang untuk tes langkah ganda, tinggi langkah hanyalah 23 cm (dengan dua kali melangkah diperoleh jarak 46 cm), sehingga lebih menyenangkan bagi subjek yang diperiksa. Kecepatan melangkah yang diperlukan pada tes latihan dengan menggukan cara ini adalah antara 60-180 langkah (paces) / menit, yang dapat diatur dengan menggunakan metronom. Pada double step test, untuk setiap ascent dan descent (satu kali naik dan turun bangku) diperlukan 6 langkah. Penting diperhatikan 6 langkah. Penting diperhatikan bahwa subjek berdiri lurus di puncak bangku pada setiap ascent (naik) dan berdiri dengan kedua kakinya diatas lantai setelah descent (turun).
Indikasi untuk menghentikan tes latihan :
1. Permintaan dari subjek untuk berhenti
2. Kegagalan system monitor
3. Nyeri dada (Angina) yang progresif
4. Jatuhnya tekanan sistolis sampai 10 mmHg atau kegagalan meningkatnya tekanan sistolis pada peningkatan beban.
5. Peningkatan tekanan darah yang berlebihan ; tekanan sistolis melebihi 250 mmHg, tekanan diastolis lebih besar dari 120 mmHg.
6. Kepala terasa ringan, bingung, ataxia, pucat, sianosis, mual atau adanya tanda-tanda dari insufisiensi sirkulasi perifer yang serius.
7. Tachicardia ventricular
8. Aritmia jantung
9. Bradicardia yang tidak sesuai dan tak dapat dijelaskan
Masa pemulihan ( Recovery )
Kemungkinan timbulnya komplikasi dari tes latihan, termasuk aritmia adalah lebih besar selama waktu pemulihan dari pada latihan. Hipotensis postural dapat terjadi segera setelah latihan, dan hal ini juga dapat menimbulkan aritmia. Selanjutnya pendinginan ( cooling down ) yang cepat dari tubuh dapat memperbesar kepekaan jantung terhadap aritmia. Oleh sebab itu latihan sebaliknya tidak dihentikan tiba-tiba, tetapi secara bertahap, kecuali jika kita ingin mengadakan observasi pemulihan (menilai kebugaran dengan melihat pemulihan kecepatan denyut jantung selama masa pemulihan). Jika memungkinkan subjek kedudukan diatas kursi yang setengah miring, untuk menghindari masalah postural. Subjek tidak diperbolehkan mandi, baik air panas ataupun dingin, segera sesudah latihan selesai.
Keluaran kerja (Work Output)
Efisiensi mekanis dalam tes langkah (16%) adalah lebih rendah dan lebih bervariasi dibanding dengan efisiensi pada tes ergometer sepeda (22%). Beban sebesar 700 kpm/menit pada tes langkah ada sebanding dengan 1000 kpm/menit pada ergometer sepeda. Dalam tes langkah keluaran kerja per satuan waktu (Wt) dinyatakan dalam kpm. Kecepatan kerja dinyatakan dalam kpm/menit atau dalam watt (1 watt = kira-kira 6 kpm/menit).
Wt = Berat badan (kg) X tinggi langkah (m) X jumlah ascent dalam waktu “t”.







BAB V
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Setelah melakukan percobaan ini kesimpulan yang dapat ditarik adalah : kapasitas kerja adalah salah kesanggupan seseorang untuk melakukan kerja dengan seefesien munkin hingga batas kemampuan kerja.
Dalam percobaan ini indeks kesanggupan badan orang coba setelah di lakukan perhitungan yaitu 30 atau kesanggupan badan.
Suatu aktivitas dapat mengakibkan peningkatan cardiak output (CO) karena penignkatan diastole sebagai akibat dari peningkatan tonus otot dan tekanan intratorak yang menururn. Selain itu, karena adanya rangsangan otonom yang meningkatkan kerja saraf simpatis sehingga denyut jantung juga meningkat.
B. SARAN
Sebaiknya alat-alat laboratorium yang digunakan dalam praktikum lebih dilengkapi agar praktikum dapat berjalan dengan lancar.

DAFTAR PUSTAKA
W.F. Ganong.2000.review of medical physiology.California, Lithographed in USA,
Guyton.2001.text book of medical phsyiologi.Newyork, Saunders
Sloane Ethel.2001.anatomi dan fisiologi untuk pemula.Jakarta, penerbit buku
Kedokteran ECG
( WWW.wikipedia.org )
( http://fraxawant.wordpress.com )
( www.lintonins.com)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar